Jurnalikanews- Ini tulisan untuk para remaja yang dilanda asmara, yang dibakar api kerinduan setiap detiknya yangg kadar senyumnya meningkat ketika benda 10x5cm berada di tangan. Menggeser-geser layar ke atas dan ke bawah dengan asyik, menekan tombol keyboard dengan cekatan serta hati yang berbunga. Membalas pesan doi-nya di setiap akun sosmed dengan kecepatan cahaya. Apakah itu yang dinamakan Cinta?
Ini bukanlah pesan orang tua untuk para pemuda kasmaran, tapi pesan antarpemuda. Setiap manusia pasti pernah berada dalam zona ini. Semuanya. Jika kau bertanya pada salah satu temanmu Kamu pernah naksir sama orang, gak?, dan dia jawab Nggak pernah, maka percayalah bahwa jawabannya itu hanya tipuan semata. Bisa jadi dia tidak tahu apa yang dia rasakan sehingga dia mengatakan bahwa dia tidak pernah naksir dengan lawan jenis, atau mungkin dia malah naksir dengan sesama jenis? Duh, naudzubillah, ya.
Biasanya, orang-orang religius yang menjawab pertanyaan tadi dengan jawaban Nggak pernah. Mereka punya prinsip, itu bagus. Mereka punya batasan-batasan tersendiri terhadap lawan jenisnya, dan menjaga semua anggota tubuhnya terhadap orang yang mereka suka. Jangan sampai jadinya malah zina, menuruti hawa nafsu dan bukan cinta yang suci. Mungkin, mereka hanya menggunakan kata naksir dengan kata yang lebih pantas seperti Bukan naksir, tapi kagum aja.. Saya sendiri belum membuat survei untuk maksud pernyataan ini. Kagum tidak harus dengan lawan jenis, bukan? Kenapa pula mereka mengganti kata naksir dengan kagum? Bisa jadi itu hanya alasan mereka saja, karena kesannya kalau sudah naksir sama lawan jenis itu bakal jatuh dalam kasus yang namanya PACARAN. Padahal, fitrah manusia untuk saling menyukai satu sama lain. Untuk merasakan yang namanya cinta. Dan naksir kepada lawan jenis bukan berarti kita harus memiliki dia hanya untuk mengenyangkan nafsu kita, bukan?
Naksir terhadap lawan jenis, itu saya masih setuju. Untuk jatuh ke dalam kasus pacaran, ini yang perlu dikhawatirkan. Kawan muda, terutama untuk para cewek, pernahkah kalian berfikir jauh ke depan? Hei, cewek-cewek labil, tak apa memikirkan pernikahan sejak dini. Mengapa? Ketika kalian terlalu lama pacaran, pacaran, dan terus pacaran, tanpa ada komitmen apapun antara kamu, dengan pasanganmu, hubungan kalian akan sia-sia saja. Waktu kalian akan terbuang percuma dengan ketidakkomitmenan pasangan kalian, kalian pacaran hanya untuk kesenangan dunia semata. Siapa yang rugi di sini?
Coba kalian fikir. Ketika kalian masih umur ABG-ABG bau kencur seperti saat ini. Jika cowok yang kau suka menembakmu. Berkata bahwa, Aku cinta kamu. Aku udah lama memendam perasaan ini ke kamu. Aku tahu kamu punya perasaan yang sama. Kita jadian, yuk?. Kalian para cewek bagusnya menjawab Ayo. Tapi, harus ada ikatan yang sah antara kita. Kamu bisa langsung datang ke rumahku, bertemu orang tuaku dan buat komitmen di sana. Karena kita masih muda, aku siap menunggumu jika kau pun siap menjadikanku pasangan abadimu.
Percayalah kawan, jika kalian menjawab seperti itu, kalian akan tahu siapakah yang benar-benar menjadi cinta sejatimu. Siapa yang cintanya suci, dan bukan karena nafsu duniawi. Kebanyakan cowok langsung kocar-kacir dijawab seperti itu. Atau shock tingkat tinggi, stroke, tremor, atau apalah itu sejenisnya. Kenapa? Mereka masih punya banyak waktu untuk bermain. Jalan mereka masih panjang untuk pernikahan. Mereka perlu menjadi seorang yang mapan, sukses, agar bisa membiayai kehidupan keluarganya nanti. Dan biasanya, untuk mengisi waktu luang mereka, para cowok lebih suka ada beberapa cewek di sisinya, sampai ia menemukan pasangan yang benar-benar pas untuk dijadikan pendamping hidup. Itu menurut pandanganku mengenai kebanyakan pemuda di Indonesia. Jadi, kalian masih tetap mau pacaran, atau lamaran? (Safina/Detocs)

Bagikan melalui: