Jurnalikanews- Dewasa ini, kita melihat cukup banyak permasalahan yang terjadi di negeri ini. Mulai dari kasus ‘kecil’ seperti orang yang menarik perhatian massa dengan kemampuan menggandakan uangnya, sampai kasus yang bisa dikatakan berskala besar seperti penistaan agama. Permasalahan tersebut datang silih berganti dan tidak henti-hentinya menerpa bangsa ini. Seakan-akan haus akan masalah, orang-orang kita seperti tidak pernah mengambil pelajaran dari permasalahan bangsa yang ada. Sebagai contoh masalah korupsi, yang secara rutin menghiasi halaman depan koran di negeri ini. Sementara disisi lain, muncul harapan agar permasalahan yang ada segera diselesaikan, dan rakyat dapat hidup tenteram dan sejahtera. 

Mereka sudah lelah diperlihatkan tontonan yang sebenarnya tidak perlu, dan mereka pun tidak mau tahu. Karena yang mereka pikirkan hanyalah dapat bekerja dan menafkahi keluarga. Rakyat kecil ini memliki harapan kepada generasi muda Indonesia yang dikatakan sebagai generasi penerus dari generasi sekarang yang dianggap sudah bobrok. Pemuda, khususnya mahasiswa, memiliki sifat yang berapi-api, berani dan mampu membuat perubahan kearah yang lebih baik. Selain itu, sejarah mencatat pemuda merupakan golongan yang memiliki peran vital dalam perkembangan bangsa ini. Mulai dari awal abad 19 saat munculnya organisasi kepemudaan (Boedi Oetomo dan Jong-jong lainnya), Sumpah Pemuda 1928, golongan muda yang mendesak golongan tua untuk memproklamirkan kemerdekaan pada 1945, dan gerakan pemuda pada 1965, 1974 dan 1998. Jika diamati, di gerakan-gerakan yang mengubah wajah Indonesia itu, dapat terjadi karena sifat dan karakter pemuda pada saat itu. Mereka memiliki apa yang disebut sebagai 3C, yaitu Care (peduli), Critic (mengkritisi) dan Contribution (memberi kontribusi).

Yang pertama, yaitu Care, atau peduli. Peduli adalah sebuah sikap keberpihakan kita untuk melibatkan diri dalam persoalan, keadaan atau kondisi yang terjadi di sekitar kita. Orang-orang peduli adalah mereka yang terpanggil melakukan sesuatu dalam rangka memberi inspirasi, perubahan, kebaikan kepada lingkungan di sekitarnya. Peduli harus dimulai dengan kesadaran diri sendiri. Kesadaran terjadi karena proses pemahaman oleh pribadi yang bersangkutan terhadap kejadian-kejadian di lingkungan sekitar dan pengalaman pribadi. Peduli karena kesadaran sendiri, lebih baik dari peduli karena dipaksa/terpaksa. Mengapa kita harus peduli? Karena pada dasarnya manusia adalah makhluk sosial (Homo Socius) yang saling membutuhkan satu sama lainnya. Menurut penulis, konsep bangsa dan negara itu sendiri dibangun atas dasar prinsip bahwa manusia adalah makhluk sosial. Sebagai contoh, bangsa adalah kumpulan dari individu-individu yang memiliki cita-cita yang sama. Negara didirikan untuk melindungi warga negara didalamnya. Dari sini ada “cita-cita yang sama” dan “melindungi warga negara”, yang membuktikkan jika manusia membutuhkan satu sama lain. Kedua, yaitu Critic atau mengkritisi atau kritis. Sementara berpikir kritis berarti sebuah proses yang disengaja dan dilakukan secara sadar untuk menafsirkan sekaligus mengevaluasi sebuah informasi dari pengalaman, keyakinan dan kemampuan yang ada (Mertes: 1986). Kritis juga dapat berarti mempertanyakan segala sesuatu. Terakhir, adalah contribution atau kontribusi. Kontribusi adalah sesuatu yang dilakukan untuk membantu menghasilkan atau mencapai sesuatu bersama-sama dengan orang lain, atau untuk membantu membuat sesuatu yang sukses. Sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain. Cara unuk menjadi bermanfaat adalah dengan berkontribusi.

oleh : Mirza Ichwanul Aziz

Bagikan melalui: