Jurnalikanews- Apa nama tanah airmu? Pertanyaan itu adalah pertanyaan yang sederhana dan secara tidak langsung dalam benak pembaca pasti akan menjawab “Indonesia”. Ketika nama tersebut terucap, pikiran kita melayang jauh menemukan berbagai budaya dari berbagai suku dan berbagai tempat dengan sumber daya alam serta keindahanya disuatu Negara dengan ikatan “Bhineka Tunggal Ika”. Inilah Indonesia.

Indonesia memang sebuah  negara berkembang dengan anugerah kekayaan alam yang tiada tara. Julukannya adalah “tanah surga”. Tanah yang subur dengan berbagai potensi alam dimilikinya. Tak heran jika dari dulu banyak negeri seberang yang mengincar Indonesia dengan silih berganti dan dengan berbagai cara.

Kekayaan alam Indonesia yang sejak lama terjaga dan diperjuangkan oleh segenap bangsa tak pernah habis dimakan masa. Hingga kini kekayaan alam ini menghidupi anak-anak pertiwi dari generasi ke generasi. Berbagai tanaman yang dimanfaatkan untuk segala kebutuhan manusia, hasil tambang yang melimpah ruah, tak kalah dengan hasil lautan yang tak kunjung musna terkumpul dinegeri tercinta ini.

Kekayaan yang melimpah ruah tersebut ternyata tidak dapat dinikmati dan belum mampu mensejahterahkan sebagian penduduk Indonesia. Kehidupan yang sejahtera hanya dimiliki oleh segelintir orang yang menumbuhkan ketimpangan sosial. Sungguh disayangkan ketika sumber daya alam yang melimpah ruah tidak mampu untuk diolah dengan keterbatasan kemampuan sumber daya manusianya.

Sumber daya alam berupa bahan mentah dikirim keluar negeri berupa minyak bumi, kelapa sawit, karet, kayu, emas dan berbagai jenis kekayaan pertiwi lainnya untuk diolah agar menjadi barang yang siap jadi dan siap pakai untuk dikonsumsi. Kemudian setelah itu, Indonesia membeli lagi dari luar negeri untuk dikonsumsi tentunya dengan harga yang lebih mahal. Kenapa Indonesia tidak bisa mengolahnya sendiri? Belum mampu.

Jika kita cermati Indonesia ini seperti anak bayi yang segala kebutuhan pokok seperti makanan, pakaian dsb sudah dipenuhi namun tidak mampu untuk makan sendiri, memakai pakaian sendiri dan sangat bergantung dengan selain diri sendiri.

Sehingga pada akhirnya kita menemui banyak perusahaan-perusahaan asing berdiri dinegeri ini merajai pasar tanpa henti. Melakukan ekspansi dan monopoli dalam ekonomi mengalahkan produksi dalam negeri dengan aksi-aksi promosi tertinggi ditambah dengan manusia-manusia Indonesia yang memiliki gengsi tinggi. Tak dapat dipungkiri Indonesia yang kita cintai ini belum bisa berdikari dengan menciptakan lapangan pekerjaan sendiri dan memanfaatkan sumber daya alam pertiwi.

Meskipun produk Indonesia tidak sebanyak produk asing yang masuk dalam negeri. Setidaknya kita mulai beralih ke produk asli dalam negeri. Seperti produk shampoo, sabun, kosmetik, baju, sepatu, dan tak terkecuali adalah produk-produk fashion yang kita ketahui produk-produk tersebut banyak dari perusahaan luar negeri. Jangan karena gengsi, produk negeri sendiri tak dipilih. Genarasi cerdas ekonomi dimulai dari sini. Cintai produk dalam negeri dengan berdikari dalam ekonomi. Sadarkan diri sendiri dan ingatkan orang lain. – Oleh : Dhurotul Elisa Sulistia Ningsih-

Bagikan melalui:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

[+] kaskus emoticons