IMG_20181228_175517Jurnalikanews- Pendidikan tidak hanya soal mengajari atau mentransfer ilmu saja, melainkan pendidikan yang lebih utama yaitu membentuk karakter dan watak seseorang agar menjadi lebih baik, lebih sopan, lebih santun, dan lebih beretika. Namun di era sekarang, sopan, santun dan beretika merupakan hal yang sulit ditemui. Hal ini terjadi dikarenakan arus globalisasi yang tidak diimbangi dengan ilmu pengetahuan. Sudah banyak platform-platform berita membicarakan tentang murid yang tidak menghormati guru, murid yang tidak mendengar nasihat guru, murid yang memukul guru, hingga murid membully guru pun kerap di beritakan.

Sebagai generasi muda, tentunya hal ini meresahkan dan ingin melakukan suatu hal yang setidaknya dapat meminimalisir serta dapat menumbuhkan rasa sopan santun itu kembali. Dengan mengikuti kegiatan-kegiatan sosial seperti menjadi relawan mengajar, merupakan salah satu cara untuk mewujudkan tujuan tersebut. Menjadi relawan tidaklah mudah. Dibutuhkan rasa suka rela dan kesabaran yang cukup tinggi. Namun mengingat tujuan yang ingin dicapai, maka semua menjadi terasa mudah dan ringan.

Setiap tahunnya di FISIP UNPAD selalu ada program kerja BEM untuk terjun langsung ke masyarakat dan berbagi ilmu kepada anak-anak yang di namakan Sekolah Fisip. Ini sudah tahun ke 11 Sekolah Fisip berlangsung. Tahun ini Sekolah Fisip memilih TPA Asy-Syafiyyah untuk dijadikan tempat mengabdi. Sekolah Fisip tahun ini sedikit berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Tahun-tahun sebelumnya Sekolah Fisip selalu fokus membantu anak-anak yang hiperaktif namun kurang dalam bidang akademik. Pada tahun ini, Sekolah Fisip berfokus untuk penanaman karakter kepada anak-anak. Penanaman karakter tentunya harus dibungkus semenarik mungkin agar anak-anak tertarik.

DSC07073Kegiatan mengajar ini dilakukan seminggu sekali setiap hari Jumat siang. Setiap minggunya Sekolah Fisip memiliki tema yang berbeda-beda untuk diajarkan dan dibagikan kepada adik-adik. Dalam setiap tema yang dibagikan, tentunya terdapat nilai-nilai karakter yang harus tertanam kepada anak-anak tersebut. Kegiatan ini berlangsung selama tiga bulan dan kami pun memiliki buku evaluasi atau semacam buku rapor untuk mengevaluasi/menilai perubahan anak-anak.

Awal mula mengikuti kegiatan ini, saya merasa amat senang dan excited. Namun setelah bertemu dengan anak-anak kelas 6-nya saya sedikit merasa putus asa dikarenakan mereka yang susah diatur dan sedikit kurang sopan. Tetapimengingat tujuan di awal, saya harus bisa merubah mereka menjadi lebih baik dan lebih beretika. Lambat laun mereka pun berubah, yang sebelumnya jarang mengucap ‘tolong’, ‘terima kasih’, dan juga ‘maaf’ karena telah dibiasakan selama kegiatan mengajar, akhirnya mereka mulai terbiasa mengucap kata-kata tersebut. Mungkin itu merupakan sesuatu hal yang sepele, tapi apabila melihat prosesnya hal tersebut merupakan hal yang cukup besar bagi saya.

Tidak harus besar untuk bisa berbuat baik. Dengan menjadi relawan pengajar, setidaknya kita melakukan perubahan untuk negeri.

(Syifa Aulia S/Universitas Padjadjaran/Bekasi_Pengabdian Untuk Negeri)

Bagikan melalui: