gambar 2 - garbage-2729608_1280 (2)Sumber: pixabay.com

Jurnalikanews-Mengulas permasalahan yang terjadi di seluruh penjuru Indonesia, agaknya menjadi suatu hal yang sangat kompleks. Perpaduan dari berbagai masalah-masalah kecil, menjadi mozaik yang lengkap bagi komplikasi masalah yang ada di negeri tercinta ini. Riuhnya gema permasalahan yang terjadi akhir-akhir ini sejatinya tak lepas dari peran masyarakatnya sendiri. Hal ini tidak bisa dipungkiri, mengingat masyarakat menjadi salah satu komponen pokok dalam mendukung keberhasilan suatu penanganan dan pemecahan masalah itu sendiri. Salah satu sebabnya adalah sifat eksploitasi yang dimiliki oleh manusia.

Berdasarkan tahapan yang dipaparkan Dr. Puji Hardati, bahwa ada tiga masa penting dalam sejarah hubungan manusia dengan alam. Pada saat manusia masih berada dalam fase memanfaatkan hasil bumi sebagai bahan makanan, alam sangat dihormati oleh manusia, tahap ini dinamakan pan cosmism. Lalu pada perkembangan teknologi, maka alam akan mulai dieksploitasi dengan teknologi, tahap ini dinamakan anthropocentrism. Lalu tahap terakhir adalah tahap di mana manusia sudah merasa bukan bagian dari alam, yakni tahap holism. Saat ini, sikap dan perilaku masyarakat Indonesia sebagian besar mencapai tahap holism.

Salah satu yang menjadi pokok masalah kompleks yang tidak menemukan titik temunya adalah permasalahan sampah plastik. Masalah ini tak lain tetap memiliki akar permasalahan pada tindakan dan sikap masyarakat. Kurangnya pola pikir konservatif menjadikan pengelolaan sampah tidak mampu dilakukan secara maksimal. Selain itu, pengetahuan mengenai konsep 3R (reduce, reuse, recycle) yang sejak dulu digaungkan belum sepenuhnya terealisasi dan dipahami oleh masyarakat. Ini berbanding terbalik dengan produksi sampah yang terus-menerus dilakukan baik dari rumah tangga, limbah perusahaan, dan lain sebagainya.gambar 1 - garbage-2729608_1280 (1)Sumber: pixabay.com

Berdasarkan data yang dikutip melalui laman berita Republika pada tanggal 16 April 2018, Direktur Pengelolaan Sampah Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) RI, Dr. Novrizal Tahar mengatakan produksi sampah nasional mencapai sekitar 65,8 juta ton per tahunnya. Jumlah tersebut antara lain sejumlah 16% adalah sampah plastik. Masalah sampah plastik ini cenderung meningkat dari tahun ke tahunnya. Meski penggalakan wacana antiplastik sudah berulang kali dicanangkan, namun wacana tersebut belum dilaksanakan oleh pemerintah dan masyarakat. Selain itu, plastik belum menemukan gantinya sebagai wadah atau pengemas makanan yang praktis dan mudah didapatkan.

Meski demikian, akhir-akhir ini perhatian pada pengurangan sampah plastik banyak dilakukan oleh mahasiswa, pemerhati lingkungan, akademisi, pelajar, dan lain-lain. Kepedulian lingkungan menjadi alasan kuat bagaimana masyarakat sejatinya harus bertindak dan bersikap dengan alam pada kehidupan sehari-harinya. Menghentikan pemakaian plastic untuk mengurangi sampah agaknya menjadi solusi kecil yang bisa dilakukan untuk menjaga Ibu Pertiwi mulai saat ini. Upaya ini juga dilakukan untuk mengurangi sikap eksploitasi dan agar menjaga lingkungan alam sebagai titipan anak cucu.

Pada beberapa restoran besar, pemakaian sedotan plastik sudah mulai dikurangi. Pihak manajemen telah memiliki keputusan untuk tidak memberikan sedotan plastic pada konsumen. Sebagai gantinya, berbagai marketplace mulai menawarkan sedotan stainless yang bisa dibersihkan dan tidak sekali pakai. Selain itu, pemakaian plastic sebagai kemasan barang di beebrapa supermarket sudah dibatasi. Bahkan, beberapa minimarket pada awalnya mulai menerapkan plastic berbayar untuk menekan pemakaian plastic tersebut. Kebijakan ini dinilai positif sebagai bagian dari program mengatasi permasalahan sampah yang kian hari kian tak terkendali.

Identitas : (Ardhian Nurhadi_Universitas Sebelas Maret Surakarta_Lingkungan)

Referensi:

Hardati, Puji dkk. 2015. Pendidikan Konservasi. Semarang: Magnum Pustaka Utama

https://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/18/04/16/p7abz3284-klhk-produksi-sampah-nasional-658-juta-ton-per-tahun

https://tirto.id/mengintip-kota-kota-gudang-sampah-di-indonesia-cE4o

Bagikan melalui: